Jilid 10
PERAN SEKTOR LUAR NEGRI PADA PEREKONOMIAN INDONESIA
Perdagangan Antar Negara (Internasional)
Pengertian
Perdagangan Internasional
Kerja
sama dalam bentuk hubungan dagang antarnegara sangat dibutuhkan oleh setiap
negara. Hal ini disebabkan setiap negara tidak dapat menghasilkan semua barang
dan jasa yang dibutuhkan oleh rakyatnya. Selain itu, juga disebabkan adanya
perbedaan sumber daya yang dimiliki, iklim, letak geografis, jumlah penduduk,
pengetahuan, dan teknologi. Alasan-alasan inilah yang menyebabkan munculnya
perdagangan internasional.
Perdagangan
internasional adalah perdagangan yang dilakukan suatu negara dengan negara lain
atas dasar saling percaya dan saling menguntungkan. Perdagangan internasional
tidak hanya dilakukan oleh negara maju saja, namun juga negara berkembang.
Perdagangan internasional ini dilakukan melalui kegiatan ekspor impor. Ekspor
adalah kegiatan menjual barang dan jasa dari dalam negeri ke luar negeri.
Adapun impor adalah kegiatan membeli barang dan jasa dari luar negeri ke dalam
negeri. Dengan melakukan perdagangan internasional melalui kegiatan ekspor impor,
negara maju akan memperoleh bahan-bahan baku yang dibutuhkan industrinya
sekaligus dapat menjual produknya ke negara-negara berkembang. Sementara itu,
negara berkembang dapat mengekspor hasil-hasil produksi dalam negeri sehingga
memperoleh devisa. Negara berkembang juga membutuhkan pinjaman dalam bentuk
investasi dan modal yang dapat diperoleh dari negara-negara maju. Devisa dan
pinjaman dalam bentuk investasi dan modal ini dapat digunakan negara berkembang
untuk memajukan perekonomian dalam negerinya.
Faktor
Pendorong Perdagangan Internasional
Ada
beberapa faktor yang mendorong semua negara di dunia melakukan perdagangan luar
negeri. Faktor-faktor pendorong tersebut terdiri atas hal-hal berikut ini.
- Perbedaan Sumber Daya Alam yang Dimiliki
Barang kebutuhan yang dapat dihasilkan oleh suatu negara
tergantung pada sumber daya alam yang dimiliki. Perbedaan sumber daya ini juga
tergantung pada kondisi wilayah di negara tersebut. Misalnya di Indonesia
wilayah daratannya luas dan subur, sehingga sangat cocok untuk pertanian, yang
sebagian besar hasil produksinya berupa kelapa sawit, karet, kopi, dan
sebagainya. Sedangkan negara Singapura wilayah daratannya relatif sempit,
sehingga kegiatan pertanian atau perkebunan cukup sedikit. Singapura dikenal
sebagai negara industri yang menghasilkan beraneka ragam barang, salah satunya
adalah alat-alat elektronik. Kebutuhan hasil-hasil pertanian dipenuh dengan
cara mengimpor dari negara lain.
- Teknologi
Setiap negara memiliki teknologi yang berbeda, sehingga
barang yang dihasilkannya juga berbeda. Perbedaan-perbedaan inilah yang
mendorong kegiatan pertukaran barang antarnegara. Perbedaan teknologi tersebut
memungkinkan suatu negara untuk mempelajari teknik produksi yang lebih modern
dan mengimpor mesin-mesin atau alat-alat yang lebih modern untuk mewujudkan
teknik dan cara produksi yang lebih baik.
- Penghematan Biaya Produksi
Perdagangan internasional memungkinkan suatu negara
memproduksi barang dalam jumlah besar sehingga biaya produksi menjadi rendah.
Misalnya Indonesia banyak menghasilkan barang-barang seperti padi, minyak
kelapa sawit, kayu lapis, dan sebagainya. Namun, yang paling menguntungkan
Indonesia bila memproduksi tekstil dan kayu lapis untuk diekspor ke berbagai
negara, karena dapat menghemat biaya produksi.
- Perbedaan Selera
Setiap negara dalam memproduksi barang-barang, kemungkinan
mempunyai kesamaan. Meskipun demikian setiap negara mempunyai selera yang
berbeda-beda. Hal inilah yang mendorong kegiatan perdagangan antarnegara.
Misalnya Jepang dan Korea Selatan samasama menghasilkan barang-barang
elektronik dan ikan tuna dalam jumlah yang hampir sama, tetapi orang Jepang
lebih suka ikan tuna dan orang Korea Selatan lebih suka produk elektronik. Pada
kondisi tersebut, negara Jepang lebih baik mengekspor barang-barang elektronik,
sedangkan Korea Selatan lebih baik untuk mengekspor ikan tuna. Dengan demikian,
kepuasan dari setiap negara dapat terpenuhi.
Manfaat
Perdagangan Internasional
Perdagangan
internasional merupakan kegiatan yang cukup penting di setiap negara. Tidak ada
satu negara di dunia ini yang tidak melakukan perdagangan internasional. Mereka
yang melakukan perdagangan internasional, sudah tentu merasakan manfaatnya.
Berikut ini beberapa manfaat dari perdagangan internasional.
- Meningkatkan Hubungan Persahabatan Antarnegara
Adanya perdagangan antarnegara, dapat mewujudkan hubungan di
antara negara-negara yang mengadakan perdagangan. Hubungan ini apabila terjalin
dengan baik dapat meningkatkan hubungan persahabatan di antara negara-negara
tersebut. Mereka dapat semakin akrab dan saling membantu bila mengalami
kesulitan dalam memenuhi kebutuhan.
- Kebutuhan Setiap Negara dapat Tercukupi
Dengan adanya perdagangan internasional, suatu negara yang
masih kekurangan dalam memproduksi suatu barang dapat dipenuhi dengan mengimpor
barang dari negara yang mempunyai kelebihan hasil produksi. Sebaliknya negara
yang mempunyai kelebihan hasil produksi barang dapat mengekspor barang tersebut
ke negara yang kekurangan. Dengan demikian kebutuhan setiap negara dapat
tercukupi.
- Mendorong Kegiatan Produksi Barang secara Maksimal
Salah satu tujuan suatu negara melakukan perdagangan
internasional yaitu untuk memperluas pasar di luar negeri. Semakin luasnya
pasar di luar negeri dapat mendorong peningkatan produksi barang di dalam negeri.
Dengan demikian akan mendorong para pengusaha untuk menghasilkan barang
produksi secara besar-besaran.
- Mendorong Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Adanya perdagangan antarnegara memungkinkan suatu negara
untuk mempelajari teknik produksi yang lebih efisien. Perdagangan luar negeri
memungkinkan negara tersebut mengimpor mesin-mesin atau alat-alat modern untuk
melaksanakan teknik produksi dan cara produksi yang lebih baik. Dengan
demikian, adanya teknologi yang lebih modern dapat meningkatkan produktivitas
dan dapat mempercepat pertambahan produksi.
- Setiap Negara dapat Mengadakan Spesialisasi Produksi
Perdagangan internasional dapat mendorong setiap negara
untuk mengadakan spesialisasi produksi dengan memanfaatkan sumber daya alam,
tenaga kerja, modal, dan keahlian secara maksimal. Dengan demikian suatu negara
akan memiliki produk-produk unggulan sehingga dapat bersaing dengan
produk-produk dari luar negeri.
- Memperluas Lapangan Kerja
Semakin
luasnya pasar di luar negeri, maka barang atau jasa yang dihasilkan juga
semakin bertambah. Dengan meningkatnya hasil produksi, maka perusahaan akan
semakin banyak membutuhkan tenaga kerja. Hal ini dapat membuka kesempatan kerja
baru. Semakin luasnya kesempatan kerja maka pengangguran dapat dikurangi.
Perdagangan
internasional membawa pengaruh yang cukup besar dalam perekonomian Indonesia.
Pengaruh tersebut ada yang bersifat positif, ada pula yang negatif. Berikut ini
beberapa dampak yang ditimbulkan dari pedagangan internasional.
Dampak
Positif Perdagangan Internasional
Berikut
ini beberapa dampak positif perdagangan internasional.
Saling membantu memenuhi kebutuhan
antarnegara
Terjalinnya hubungan di antara negara-negara yang melakukan perdagangan dapat memudahkan suatu negara memenuhi barang-barang kebutuhan yang belum mampu diproduksi sendiri. Mereka dapat saling membantu mengisi kekurangan dari setiap negara, sehingga kebutuhan masyarakat terpenuhi.
Terjalinnya hubungan di antara negara-negara yang melakukan perdagangan dapat memudahkan suatu negara memenuhi barang-barang kebutuhan yang belum mampu diproduksi sendiri. Mereka dapat saling membantu mengisi kekurangan dari setiap negara, sehingga kebutuhan masyarakat terpenuhi.
- Meningkatkan produktivitas usaha
Dengan adanya perdagangan internasional, kemajuan teknologi
yang digunakan dalam proses produksi akan meningkat. Meningkatnya teknologi
yang lebih modern dapat meningkatkan produktivitas perusahaan dalam
menghasilkan barang-barang.
- Mengurangi pengangguran
Perdagangan internasional dapat membuka kesempatan kerja
baru, sehingga hal ini menjadi peluang bagi tenaga kerja baru untuk memasuki
dunia kerja. Semakin banyak tenaga kerja yang digunakan oleh perusahaan, maka
pengangguran dapat berkurang.
- Menambah pendapatan devisa bagi negara
Dalam kegiatan perdagangan internasional, setiap negara akan
memperoleh devisa. Semakin banyak barang yang dijual di negara lain, perolehan
devisa bagi negara akan semakin banyak.
Dampak
Negatif Perdagangan Internasional
Selain
dampak positif, perdagangan internasional juga memberikan dampak negatif bagi
perekonomian Indonesia. Berikut ini beberapa dampak negatif dari perdagangan
internasional.
- Adanya ketergantungan dengan negara-negara pengimpor
Untuk memenuhi kebutuhan barang-barang yang tidak diproduksi
dalam negeri, pemerintah akan mengimpor dari negara lain. Kegiatan mengimpor
ini dapat mengakibatkan ketergantungan dengan negara pengimpor.
- Masyarakat menjadi konsumtif
Banyaknya barang-barang impor yang masuk ke dalam negeri
menyebabkan semakin banyak barang yang ada di pasar baik dari jumlah, jenis,
dan bentuknya. Akibatnya akan mendorong seseorang untuk lebih konsumtif, karena
semakin banyak barang-barang pilihan yang dapat dikonsumsi.
- Mematikan usaha-usaha kecil
Perdagangan internasional, dapat menimbulkan persaingan
industri dengan negara-negara lain. Industri yang tidak mampu bersaing tentu
akan mengalami kerugian, sehingga akan mematikan usaha produksinya. Dalam
jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan pengangguran.
Hambatan Perdagangan Internasional(Antar-Negara)
Dalam
kegiatan perdagangan internasional(antar-negara) sering kali suatu negara
mengalami hambatan. Hambatan perdagangan internasional adalah regulasi
atau peraturan pemerintah yang membatasi perdagangan bebas.
Berikut
ini beberapa hambatan yang sering muncul dalam perdagangan internasional.
a.
Perbedaan Mata Uang Antarnegara
Mata uang yang berlaku di setiap negara berbeda – beda. Negara yang melakukan kegiatan ekspor, biasanya meminta kepada negara pengimpor untuk membayar dengan menggunakan mata uang negara pengekspor. Pembayarannya tentunya akan berkaitan dengan nilai uang itu sendiri. Padahal nilai uang setiap negara berbeda-beda. Apabila nilai mata uang negara pengekspor lebih tinggi daripada nilai mata uang negara pengimpor, maka dapat menambah pengeluaran bagi negara pengimpor. Dengan demikian, agar kedua negara diuntungkan dan lebih mudah proses perdagangannya perlu adanya penetapan mata uang sebagai standar internasional.
Mata uang yang berlaku di setiap negara berbeda – beda. Negara yang melakukan kegiatan ekspor, biasanya meminta kepada negara pengimpor untuk membayar dengan menggunakan mata uang negara pengekspor. Pembayarannya tentunya akan berkaitan dengan nilai uang itu sendiri. Padahal nilai uang setiap negara berbeda-beda. Apabila nilai mata uang negara pengekspor lebih tinggi daripada nilai mata uang negara pengimpor, maka dapat menambah pengeluaran bagi negara pengimpor. Dengan demikian, agar kedua negara diuntungkan dan lebih mudah proses perdagangannya perlu adanya penetapan mata uang sebagai standar internasional.
b
. Kualitas Sumber Daya yang Rendah
Rendahnya kualitas tenaga kerja dapat menghambat perdagangan internasional karena jika sumber daya manusianya rendah, maka kualitas dari hasil produksi(produk) akan rendah pula. Suatu negara yang memiliki kualitas produk rendah akan sulit bersaing dengan barang – barang yang dihasilkan oleh negara lain yang kualitasnya lebih baik. Hal ini tentunya menjadi penghambat bagi negara yang bersangkutan untuk melakukan perdagangan internasional.
Rendahnya kualitas tenaga kerja dapat menghambat perdagangan internasional karena jika sumber daya manusianya rendah, maka kualitas dari hasil produksi(produk) akan rendah pula. Suatu negara yang memiliki kualitas produk rendah akan sulit bersaing dengan barang – barang yang dihasilkan oleh negara lain yang kualitasnya lebih baik. Hal ini tentunya menjadi penghambat bagi negara yang bersangkutan untuk melakukan perdagangan internasional.
c
. Pembayaran Antarnegara Sulit dan Risikonya Besar
Pada saat melakukan kegiatan perdagangan internasional, negara pengimpor akan mengalami kesulitan dalam hal pembayaran. Apabila pembayarnya dilakukan secara tunai maka negara pengimpor akan mengalami kesulitan dan resiko yang tinggi, seperti perampokan. Oleh karena itu, negara pengekspor tidak mau menerima pembayaran secara tunai tetapi melalui kliring internasional atau telegraphic transfer atau menggunakan L/C.
Pada saat melakukan kegiatan perdagangan internasional, negara pengimpor akan mengalami kesulitan dalam hal pembayaran. Apabila pembayarnya dilakukan secara tunai maka negara pengimpor akan mengalami kesulitan dan resiko yang tinggi, seperti perampokan. Oleh karena itu, negara pengekspor tidak mau menerima pembayaran secara tunai tetapi melalui kliring internasional atau telegraphic transfer atau menggunakan L/C.
d
. Adanya Kebijaksanaan Impor dari Suatu Negara
Setiap negara tentunya akan selalu melindungi hasil produksinya sendiri. Mereka tidak ingin hasil produksinya tersaingi oleh hasil peoduksi dari luar negeri. Oleh karena itu, setiap negara akan memberlakukan kebijakan untuk melindungi barang-barang dalam negeri. Salah satunya dengan menetapkan tarif impor.
Setiap negara tentunya akan selalu melindungi hasil produksinya sendiri. Mereka tidak ingin hasil produksinya tersaingi oleh hasil peoduksi dari luar negeri. Oleh karena itu, setiap negara akan memberlakukan kebijakan untuk melindungi barang-barang dalam negeri. Salah satunya dengan menetapkan tarif impor.
Apabila
tarif impor tinggi maka produk impor tersebut akan menjadi lebih mahal daripada
peoduk dalam negeri sehingga mengakibatkan masyarakat menjadi kurang tertarik
untuk membeli produk impor. Hal itu akan menjadi penghambat bagi negara lain
untuk melakukan perdagangan.
e
. Terjadinya Perang
Terjadinya perang dapat menyebabkan hubungan antarnegara terputus. Selain itu, kondisi perekonomian negara yang sedang berperang tersebut juga akan mengalami kelesuan. Hal ini dapat menyebabkan perdagangan antarnegara akan terhambat.
Terjadinya perang dapat menyebabkan hubungan antarnegara terputus. Selain itu, kondisi perekonomian negara yang sedang berperang tersebut juga akan mengalami kelesuan. Hal ini dapat menyebabkan perdagangan antarnegara akan terhambat.
f
. Adanya Organisasi – Organisasi Ekonomi Regional
Biasanya dalam satu wilayah regional terdapat organisasi – organisasi ekonomi. Tujuan organisasi – organisasi tersebut adalah untuk memajukan perekonomian negara – negara anggotanya. Kebijakan serta peraturan yang dikeluarkannya pun hanya untuk kepentingan negara – negara anggota saja. Sebuah organisasi ekonomi regional akan mengeluarkan peraturan ekspor dan impor yang khusus untuk negara anggotanya. Akibatnya apabila ada negara di luar anggota organisasi tersebut melakukan perdagangan dengan negara anggota akan mengalami kesulitan.
Biasanya dalam satu wilayah regional terdapat organisasi – organisasi ekonomi. Tujuan organisasi – organisasi tersebut adalah untuk memajukan perekonomian negara – negara anggotanya. Kebijakan serta peraturan yang dikeluarkannya pun hanya untuk kepentingan negara – negara anggota saja. Sebuah organisasi ekonomi regional akan mengeluarkan peraturan ekspor dan impor yang khusus untuk negara anggotanya. Akibatnya apabila ada negara di luar anggota organisasi tersebut melakukan perdagangan dengan negara anggota akan mengalami kesulitan.
Bentuk
– bentuk hambatan perdagangan yang muncul akibat adanya kebijakan ekspor-impor,
antara lain:
a.
Tarif atau bea cukai
Tarif
adalah pembebanan pajak (custom duties) terhadap barang-barang yang
melewati batas kenegaraan. Tarif dapat digolongkan menjadi beberapa bagian,
antara lain :
- Bea ekspor = pajak atau bea yang dikenakan terhadap produk yang diangkut menuju negara lain.
- Bea transit = pajak yang dikenakan terhadap produk yang melalui wilayah negara lain dengan ketentuan bahwa negara tersebut bukan merupakan tujuan akhir dari pengiriman.
- Bea impor = pajak yang dikenakan terhadap produk yang masuk dalam suatu negara dengan ketentuan negara tersebut adalah merupakan tujuan akhir dari pengiriman produk.
- Uang jaminan impor = persyaratan bagi importir suatu produk untuk membayar kepada pemerintah sejumlah uang tertentu pada saat kedatangan produk di pasar domestik sebelum penjualan dilakukan.
b.
Kuota Impor
Kuota
membatasi banyaknya unit yang dapat diimpor. Tujuannya adalah untuk membatasi
jumlah barang tersebut di pasar dan menaikkan harga produknya.
c.
Subsidi
Subsidi
adalah bantuan pemerintah untuk produsen lokal. Subsidi dihasilkan dari
pajak yang dipungut pemerintah dari rakyat.
d.
Exchage Control
Biasanya,
negara – negara yang menggunakan kontrol devisa adalah mereka yang ekonomi
lemah. Kontrol ini memungkinkan negara – negara yang ekonominya lebih stabil
membatasi jumlah volatilitas nilai tukar mata uang yang masuk / keluar.
e.
State Trading Operasion
State
Trading Operasion adalah pemerintah dalam perdagangan melakukan kegiatan
ekspor.
f.
Peraturan anti-dumping
Politik
Dumping adalah menjual suatu barang yang nilainya lebih tinggi dari harga beli,
baik dijual di luar negeri maupun dalam negeri tetap mendapat untung. Adapun
beberapa motif dari Politik Dumping, yaitu antara lain:
- Barang-barang yang diminati oeh negara asal, supaya dapat terjual di luar negeri.
- Memperkenalkan suatu produk dalam negeri ke negara lain.
- Berebut pasar luar negeri.
Hambatan
perdagangan mengurangi efisiensi ekonomi. Pihak yang diuntungkan dari
adanya hambatan perdangan internasional adalah produsen dan pemerintah.
Produsen mendapatkan proteksi dari hambatan perdagangan, sementara pemerintah
mendapatkan penghasilan dari bea – bea.
NERACA PEMBAYARAN LUAR NEGERI INDONESIA
Neraca pembayaran (balance of payment atau
BOP) adalah catatan sitematis dari semua transaksi ekonomi internasional (perdaganagn,
investasi, pinjaman dan sebagainya) yang terjadi antara penduduk dalam negeri
suatu negara dan penduduk luar negeri selama jangka waktu tertentu (biasanya
satu tahun), yang biasanya dinyatakan dalam dollar AS.
·
Oleh karena itu BOP sangat
berguna karena menunjukkan struktur dan komposisi transaksi ekonomi dan posisi
keuangan internasional suatu negara. Lembaga-lembaga keuangan internasional,
seperti IMF, bank dunia dan negara-negara donor juga menggunakan BOP sebagai
salah satu indikator dalam mempertimbangkan pemberian bantuan keuangan keapda
suatu negara.
·
Selain itu, BOP juga merupakan
salah satu indikator fundamental ekonomi
suatu negara di samping variable-variabel ekonomi makro lainnya, seperti laju
pertumbuhan PDB, tingkat pendapatan per kapita, tingkat inflasi, tingkat suku
bunga dan nilai tukar mata uang domestik. (Tulus, T.H. Tambunan, Dr., 2001).
1. SISTEMATIKA NERACA PEMBAYARAN LN
·
Tujuan utama pembuatan neraca
pembayaran LN adlaah :
1) Agar otoritas moneter pemerintah mengetahui
kedudukan (hubungan) keuangan internasional,
2) Untuk membantu membuat kebijakan moneter dan
fisikal
3) Mengambil kebijakan perdagangan dan pembayaran
(hubungan keuangan internasional).
·
Transaksi kredit adalah transaksi
yang menimbulkan hak untuk menerima pembayaran dari penduduk negara lain (tanda
+). Transaksi debit adalah transaksi yang menimbulkan kewajiban untuk melakukan
pembayaran kepada penduduk negara lain (tanda -) (Nopirin, 1990)
·
Pos-pos dalam neraca pembayaran
LN. menurut model Bank Indonesia
a.
Transaksi berjalan
b. Modal diluar sektor moneter
c.
Jumlah (a + B)
d. Selisih perhitungan C dan E, dan
e.
Lalu lintas moneter
·
Penyajian neraca pembayaran LN
menurut model IMF memuat pos-pos
a.
Neraca Barang dan Jasa
b. Hibah
c.
Transaksi berjalan (A + B)
d. Lalu lintas modal (D1 – Di Luar Sektor Moneter
dan L2 sektor moneter)
e.
Selisih perhitungan
(Laporan
Bank Indonesia Tahun 2000)
a.
TRANSAKSI BERJALAN (CURRENT ACCOUNT)
·
Transaksi berjalan meliputi :
transaksi perdagangan barang dan jasa, pendapatan hasil invesasi (modal), dan
transaksi unilateral.
Transaksi
berjalan mengalami surplus bila ekspor (barang dan jasa) lebih besar dari impor
(barang dan jasa). Sebaliknya akan mengalami defisit apabila impor lebih besar
dari ekspor.
·
Sebelum krisis ekonomi 1997
transaksi berjalan kita cenderungan tiap tahun mengalami defisit, karena :
1) Besarnya pembayaran bunga pinjaman
2) Besarnya pembayaran ongkos angkutan dan
asuransi
3) Besarnya pembayaran jasa-jasa lain. Defisit
transaksi berjalan selalu diusahakan ditutup dengan surplus pada neraca modal
(lalulintas modal) melalui pinjaman luar negeri.
·
Tahun-tahun sesudah krisis
ekonomi 1997, transaksi berjalan selalu mengalami surplus, karena :
1) Impor barang menurun dengan drastis akibat
melonjaknya kurs dolar AS
2) Ekspor barang cenderung terus meningkat akibat
merosotnya nilai tuakr rupiah (lihat Lampiran : Neraca Pembayaran Indonesia
Tahun 1997, 1998, 1999, 2000 dan 2001).
b. MODAL
DILUAR SEKTOR MONETER
·
Pos ini bisa juga disebut Neraca
Modal karena menyangkut transaksi modal, yaitu lalu lintas modal yang terdiri
dari : (1) lalu lintas modal pemerintah dan (2) lalu lintas modal swasta.
Transaksi modal meliputi penanaman modal langsung,
utang – piutang jangka panjang maupun jangka pendek, baik yang dilakukan
pemerintah maupun oleh swasta.
·
Lalu lintas modal pemerintah
selama tahun 1997-1999 mengalami saldo positif (+) karena : (a) penerimaan
pinjaman pemerintah meningkat dan (b) pelunasan pinjaman menurun akibat krisis
ekonomi.
·
Lalu lintas modal swasta
menghasilkan saldo negatif ( - ) karena
: (a) penanaman modal langsung (investor) menurun drastis akibat capital
flight, sedang, (b) lainnya (pelunasan/ angsuran utang LN ) melonjak tinggi
akibat jatuh tempo.
c.
JUMLAH (A + B)
·
Pos ini merupakan perhitungan
antara saldo transaksi berjalan dengan saldo neraca modal (modal di luar sektor
moneter).
·
Pada tahun 1997, 1998, 1999 :
saldo transaksi berjalan (miliar $); -5,0, 4,1 dan 5,2. Sedangkan saldo neraca
modal (miliar $) berturut-turut 2,6,-3,9, -3,2. dengan demikian julmah (A + B)
; $-2,4 miliar (1997) $0,2 miliar (1998) dan $2,0 miliar (1999)
d. SELISIH PERHITUNGAN C DAN E
·
Pos ini merupakan rekening
penyeimbang apabila nilai transaksi-transaksi kredit tidak sama dengan nilai
transaksi debit (selisih “jumlah A + B” dengan “lalu lintas moneter”). Dengan
demikian total nilai sebelah kredit dan debit akan selalu sama atau balance.
·
Hal ini disebabkan karena keadaan
tidak selalu memungkinkan adanya cukup pengetahuan untuk menghasilkan
pencatatan yang cukup sempurna mengenai transaksi internasional. Beberapa
rekening hanya merupakan dugaan saja. Rekening lain dilaksanakan oleh
perorangan, yang tidak seperti pengusaha bank, pedagang perantara, pedaganga
surat-surat berharga dan perusahaan besar, tidak melapor dengan teratur
mengenai kegiatan luar negeri mereka. Maka perlu menambah satu rekening (pos)
untuk kesalahan-kesalahan (errors and omission) agar terdapat keseimbangan ke
dua sisi dari neraca
(Kindleberger,
1983).
e.
LALU LINTAS MONETER
·
Transaksi (rekening) ini sering
disebut “accomodating” sebab merupakan transaksi yang timbul sebagai akibat
adanya transaksi lain. Transaksi lain disebut “autonomus” sebab transaksi ini
timbul dengan sendirinya, tanpa dipengaruhi oleh transaksi lain, seperti
transaksi berjalan, transaksi modal.
·
Perbedaan antara transaksi
autonomus debit dan kredit diseimbangan dengan transaksi “lalu lintas moneter”.
Yang termasuk dalam transaksi lalu lintas
moneter adalah mutasi dalam hubungan dengan IMF, pasiva LN, aktiva LN.
Defisit
atau surplus neraca pembayaran dapat diketahui dari rekening in (Nopirin,
1990).
·
Tahun1997 defisit $4,1 miliar
(tanda +), tahun 1998, 1999 masing-masing surplus -$2,3 miliar, $3,4 miliar.
2. ASPEK LIKUIDITAS NERACA PEMBAHARAN LN
·
Tujuan kebijakan neraca
pembayaran LN berkaitan dengann aspek likuiditas dan aspek solvabilitas :
(1) Aspek likuiditas : menyangkut tujuan jangka
pendek
(2) Aspek solvabilitas : menyangkut tujuan jangka
panjang
·
Aspek likuiditas berkaitan dengan
posisi dan perubahan cadangan devisa. Pemerintah sangat peka terhadap posisi
dan perubahan cadangan devisa. Pemerintah menganggap bahwa posisi dan perubahan
cadangan devisa sangat penting, karena dua alasan :
(1) Kepercayaan penduduk Indonesia maupun
orang-orang luar negeri terhadap kurs devisa dan kebijakan ekonomi pemerintah
sangat dipengaruhi oleh perkembangan cadangan devisa. Sebab menurunnya cadangan
devisa bisa berakibat :
a.
Terjadinya pelarian modal ke luar
negeri
b. Menurun/ berhentinya aliran m odal jangka
pendek dan jangka panjang
c.
Keengganan negara donor menambah/
memberi bantuan
(2) Cadangan devisa dapat dipakai untuk melakukann
tindakan penyesuaiann menghadapi fultuasi jangka pendek, sehingga memberikan
tenggang waktu kepada pemerintah untuk melakukan upaya kebijakann penyesuaian
yang diperlukan (Nopirin, 1990)
3. CADANGAN DEVISA
1) Devisa dan Valuta Asing
·
Devisa (foreign exchange) menurut
pasal 1 UU No. 32/1964 adalah :
a.
Saldo bank resmi dari Bank
Indonesia
b. Valuta asing lainnya tidak termasuk uang
logam, yang mempunyai catatan kurs resmi dari BI
Dari
ketentuan di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian devisa mencakup baik
valuta asing dalam bentuk simpanan dibank maupun valuta asing dalam bentuk uang
tunai tidak termasuk uang logam), yang kedua-duanya mempunyai catatan kurs
resmi di Bank Indonesia.
·
Menurut UU No. 32/1964 dibedakan
tiga jenis devisa :
(1) Devisa ready, yaitu devisa yang telah
dikreditkan ke dalam rekening bank dan siap untuk dipergunakan
(2) Devisa Ready, yaitu devisa yang belum
dikreditkan ke dalam rekening bank dan masih dalam proses penagihannya atau
masih menunggu jatuh tempo untuk dapat dipergunakan.
(3) Devisa tunai, yaitu devisa yang berupa uang
kertas asing atau bank note yang mempunyai catatan kurs resmi pada Bank
Indonesia.
Valuta
Asing (foreign currency) atau valas tidak lain adalah jenis devissa tunai
seperti dimaksud di atas.
(Roselyne,
Hutabarat, 1992)
2) Konsep Cadangan Devisa
·
Sesuai kesepakatan dengan IMF,
konsep pencatatan cadangan devisa oleh Bank Indonesia perlu disesuaikan dengan
metode yang dipakai secara internasional, yaitu balance of payment manual IMF
dan program special Data dissemination Standard (SDDS) IMF.
Maksudnya agar angka cadangan devisa Indonesia mudah
dimengerti oleh semua pelaku pasar internasional dan dapat diperbandingkan
dengan dta negara-negara lain sehinggga dapat memberi gambaran yang lengkap
kondisi ekonomi Indonesia.
·
Sejak Januari 1998 Bank Indonesia
mengubah konsep cadangan devisa resmi menjadi konsep aktiva luar negeri bruto
(gross foreign assets = GFA). Di samping konsep GFA, Bank Indonesia juga
mengumumkan posisi cadangan luar negeri bersih (net international reserve =
NIR)
·
Pengertian NIR adalah GFA
dikurangi kewajiban-kewajiban BI dalam valuta asing, yaitu :
a.
Utang dalam valuta asing dengan
masa jatuh tempo sampai dengan 1 tahun (termasuk penggunaan dana pinjaman IMF)
b. Kewajiban bersih valuta asing dalam rangka
transaksi forward (net forward position)
c.
Simpanan valuta asing bank-bank
di BI dalam rangka pemenuhan ketentuan GWM dalam valuta asing
3) Posisi GFA dan NIR
BI
mengumumkan posisi GFA dan NIR dua kali sebulan :
Posisi Cadangan Devisa (miliar $)
Items
Maret
1998
Gross
Foreign Assets 16.589,8
-
Liquid reserves 1) 10.809,9
-
Others reserve 2) 5.779,9
Loss
gross foreign liabilities 2.940,9
Plus
net forward position 3) -34,0
Loss
reserve agains FCDs 4) 435,2
Equal
Net Intgernational Reserves 13.179,7
Catatan
:
1) Liquid reserve, termasuk emas, sekuritas dalam
valas, deposito luar negeri lainnya dan special drawwing right (SDR)
2) Others reserve terdiri dari : export draft,
deposito di cabang-cabang luar negeri bank nasional dan deposito yang
ditempatkan di bank-bank asing untuk menggaransi L/C
3) Claims forward terhadap non resident dikurangi
kewajiban forward
4) FCDs = foreign currency deposits
(Laporan
Bank Indonesia, Tahun 2000)
4. HUTANG LUAR NEGERI
1) Penyebab Meningkatnya Utang LN
(1) Defisit Transaksi Berjalan (TB)
Lima
tahun sebelum krisis ekonomi (1992/1993 – 1996/1997) defisit TB masing-masing
tiap tahun (jutaan) : $2,311; $2,740; $3,248; $6,757 dan $7,847. Untuk menutup
defisit itu pemerintah melakukan pinjaman luar negeri.
(2) Meningkatnya Kebutuhan Investasi
·
Hampir setiap tahun Indonesia
menghadapi delima invesment-saving gap. Selama tahun-tahun 1994, 1995, 1996,
jumlah dana tabungan (triliun) : Rp 56,2; Rp 69,0;; Rp 88,3; Sementara
kebutuhan investasi (triliun): Rp 71,4; Rp 96,4 dan Rp 119,6.
·
Hal ini mendorong meningkatnya
pinjaman LN, terutama pinjaman sektor swasta. Di samping kelangkaan dana,
meningkatnya utang LN juga didorong oleh perbedaan tingkat suku bunga.
(3) Meningkatnya Inflasi
·
Laju inflasi tiga tahun menjelang
krisis meningkat: 7,04% (1993/1994) ; 8,57% (1994/1995) dan 8,86 (1995/1996).
Hal ini mempengaruhi tingkat suku bunga, karena ekspektasi inflasi merupakan
komponen suku bunga nominal.
·
Suku bunga krdit di Indonesia
tinggi (1995/1996); kredit modal kerja 19,30%, kerdit investasi 16,39%,
sedangkan LIBOR 5,39% dan SIBOR 5,37%.
(4) Struktur perekonomian tidak efisien
ICOR
menapai 4,9 (1984 – 1993) yang seharusnya antara 3 – 3.5. Jadi ada pemborosan
sekitar 30%, karena tidak efisien dalam penggunaan modal, maka memerlukan
invetasi besar. Hal ini mendorong utang luar negeri.
2) Posisi Pinjaman Luar Negeri Indonesia
·
Posisi ugang luar negeri
Indonesia pada akhir 1996/1997 secara kesellruhan mencapai $109,3 miliar.
(1) Posisi pinjaman luar negeri sebelum krisis
Rincian
|
Posisi
31
Maret 1996
|
Posisi
31
Maret 1997
|
||
Miliar
$
|
%
|
Miliar
$
|
%
|
|
Pinjaman pemerintah
Bilateral
1)
Multilateral
Lainnya
Pinjaman swasta |
58,6
38,3
19,3
1,0
47,8
|
55,1
36,0
18,1
0,9
44,9
|
53,3
35,2
17,2
0,9
56,0
|
48,8
32,2
15,7
0,8
51,2
|
Jumlah
|
106,4
|
100,0
|
109,3
|
100,0
|
Sumber
: Laporan tahunan Bank Indonesia, 1996/1997
1)
Termasuk pinjaman lama dan fasilias kredit ekspor.
Dengan
semakin besarnya peran sektor swasta dalam perekonomian nasional, pangsa utangl
aur negeri sektor swasta juga semakin meningkat. Sedang percepatan pembayaran
utang pemerintah dimaksudkan untuk mengurangi beban utang luar negeri pada saat
utang swasta meningkat.
(2) Posisi Pinjaman Luar Negeri Sesudah Krisis
Rincian
|
Posisi
31
Desember 1998
|
Posisi
31
Desember 1999
|
||
Juta
$
|
%
|
Juta
$
|
%
|
|
Pinjaman pemerintahSwastaBank
Non Bank
Surat Berharga
|
67.315
83.572
10.769
67.515
5.288
|
44,6
55,4
7,1
44,8
3,5
|
75.763
65.618
10.063
52.630
2.915
|
53,6
46,4
7,1
37,2
2,1
|
Jumlah
|
150.887
|
100,0
|
141.381
|
100,0
|
Sumber
: Laporan Tahunan Bank Indonesia, 1999
·
Peningkatan posisi utang
pemerintah akibat penarikan pinjaman multilateral dan pinjaman IMF serta dampak
dari menguatnya mata uang yen Jepang terhadap dolar Amerika Serikat.
·
Menurut jangka waktu utang swasta
non bank (akhir 1999) :
$46.7
miliar (84,1%) : lebih dari 3 tahun (jangka panjang)
$ 3.1 miliar (
4,7%) : lebih dari 1-3 tahun (jangka menengah)
$ 5.7 miliar (10,3%) : lebih dari 1 tahun
(jangka pendek)
3) Restrukturisasi Utang Luar Negeri Indonesia
·
Tingginya beban pembayaran pokok
utang swasta non bannk berkaitan utang yang baru mencapai 14,5% dari $23,2
miliar.
·
Realiasi restrukturisasi utang
luar negeri Indonesia
Jenis |
Posisi
31-12-98
|
Komitmen
Restrukturisasi
|
Realiasi
Restrukturisasi
99
|
||
Miliar
$
|
Miliar
$
|
%
|
Miliar
$
|
%
|
|
Pemerintah
Swasta
Bank
Nonbank
|
67.3
83.6
10.8
72.8
|
4.7
29.5
6.3
23.2
|
6,9
35,3
58,3
31,9
|
3.8
9.6
6.2
3.4
|
80,1
32,5
98,4
14,7
|
Total
|
150.9
|
34.2
|
22,7
|
13.4
|
39,2
|
Sumber
: Laporan Tahunan Bank Indonesia, 1999
4) Indikator Kelayakan Utang Luar Negeri
·
Rasio beban utang luar negeri
(DSR = Debt Service Ratio) dan rasio total utang terhadap PDB tahun 1999
masing-masing mencapai 51,9% dan 108,5%.
·
Indikator beban utang luar negeri
Indonesia
Indikator
|
Persentase
|
Kriteria Bank Dunia
|
|||
1996
|
1997
|
1998
|
1999
|
||
DSR
Posisi
utang/ ekspor
Posisi
utang/ PDB
|
34,0
179,5
48,9
|
44,6
207,8
63,6
|
58,7
262,0
145,8
|
51,9
240,0
108,5
|
20,0
130-220
50-80
|
Sumber:
Laporan Tahunan Bank Indonesia 1999
·
Beberapa indikator beban utang
luar negeri sudah berada di atas standar yang sehat. Beberapa rasio tersebut
menunjukkan bahwa kemampuan Indonesia untuk memenuhi kewajiban luar negeri
menjadi sangat terbatas.
5. KURS VALUTA ASING DAN DEVALUASI
Sifaat
kurs valuta asing sangat tergantung dari sifat pasar. Sifat pasar ada yang
tetap, berubah-ubah atau diawasi. Maka dikenal beberapa sistem kurs devisa:
1) Sistem Kurs Deivsa Tetap (Fixed Exchange Rate)
·
Pada masa berlaku sistem standar
emas kurs antar valuta asing dikaitkan dengan kandungan (isi) emas yang ada
pada tiap mata uang asing (kurs sesuai dengan perbandingan berat emas yang
terkandung pada mata uang yang bersangkutan).
·
Pada standar kertas seperti
sekarang, yang dimaksud fixed exchange rate adalah suatu sistem devisa di mana
pemerintah menetapkan tingkat kurs mata uang negara tersebut dengan mata-mata
uang negara lain dan brusahauntuk mempertahankannya dengan berbagai kebijakan
secara sadar, seperti :
a.
Tindkan-tindakan tidak langsung
berupa : (1) pembleian mata uang sendiri dengan mata uang asing oleh Bank
Sentral atau (2) sebaliknya penjualan mata uang sendiri apabila tingkat kurs
dipasar melonjak di atas tingkat kurs yang ditetapkan.
b. Tindakan-tindakan langsung berupa penjatahan
devisa pada tingkat kurs yang ditetapkan. Dalam hal ini tidk ada “pasar devisa”
dalam arti sebenarnya.
2) Sistem Kurs Mengambang (Floating/ Flexible
Exchange Rate)
·
Pada sistem ini kurs satu mata
uang dengan mata uang lain dibiarkan untuk ditentukan secara bebas oleh
tarik-menarik kekuatan pasar.
·
Keuntungan sistem ini bahwa
tingkat kurs yang berlaku selalu sama dengan tingkat kurs keseimbangan,
sehingga tidak ada pasar gelap, tidak ada masalah surplus atau defisit neraca
pembayaran (Boediono, 1994).
3) Perencanaan Devisa (Exchange Control)
·
Dalam sistem ini pemerintah
memonopoli seluruh transaksi valuta
asing. Tujuannya untuk mencegah aliran modal ke luar.
·
Menghadapi jumlah devisa yang
lebih kecil dibandingkan perminataan, maka pemerintah melakukan alokasi di
dalam penggunaannya yakni dengan melakukan multiple exchange rata.
Sampai
dewasa ini Indonesia menganut regim devisa bebas dalam arti setiap penduduk
bebas menerima, menyimpan dann menggunakan devisa.
Dalam
rangka melaksanakan sistem deivsa bebas, Indonesia telah mengesahkan
Undang-undang No. 24 tahun 1999 tentang lalu lintas Devisa dan Sistem Nilai
Tukar.
1) Sistem Devisa bebas
·
Undang-undang No. 24 tahun 1999
ini menegaskan bahwa Indonesia tetap menganut sistem devisa, sehingga
memungkinkan setiap penduduk dapat dengan bebas memiliki dan menggunakan devisa
yang dimilikinya.
·
Prinsip devisa bebas tetap dipertahankan
dengan pertimbangann Indonesia masih memerlukan dana luar negeri untuk memenuhi
kebutuhan pembiayaan yang belum sepenuhnya dapat dipenuhi dari dalam negeri
dalam rangka lebih mempercepat pembangunan. Selain itu, aliran modal masuk
tersebut juga diperlukan untuk menutup defisit transaksi berjalan yang sebelum
krisis mencapai sekitar 3% dari PDB.
2) Pelaporan Lalu Lintas Devisa
·
Sistem devisa bebas dapat
menimbulkan kerawanan-kerawanan terhadap kestabilan-kestabilan ekonomi bila
tidak disertai sikap kehati-hatian seluruh pelaku ekonmi dan tidak tersedia
data mengenai keluar masuknya modal ke Indonesia.
·
Karena itu dalam undang-undang
ini diatur mengenai pelaporan dan pemantauan kegiatan lalu lintas devisa:
a.
Bank Indonesia berwenang meminta
keterangan dan data mengenai kegiatan lalu lintas devisa yang dilakukan oleh
penduduk.
b. Setiap penduduk diwajibkan untuk memberikan
keterangan dan data dimaksud, secara langsung atau melalui pihak lain yang
ditetapkan oleh Bank Indonesia.
c.
Peraturan Bank Indonesia (PBI)
No.1/9/PBI/1999, mengatur kewajiban bank dan LKNB menyampaikan keterangan dan
data mengenai kegiatan lalu – lintas devisa, meliputi transaksi devisa, posisi
aset dan kewajiban finansial kepada Bank Indonesia.
3) Surat Edaran Bank Indonesia No.1/9/DSM/1999
mengatur teknis pelaporan, antara lain memuat ketentuan sanksi:
(1) Terlambat melapor : Denda
Rp 5.000.000/ hari keterlambatan
(2) Tidak menyampaikan laporan : Denda Rp 100.000.000 + denda keterlambatan
(3) Laporan tidak lengkap dan atau tidak benar : Denda Rp 100.000/ perkekurangan/tidak benar
sampai max. Rp. 100.000.000,-
(4) Tidak menyampaikan laporan 6 periode
berturut-turut atau paling lama 6 bulan.
· DEVALUASI
¨ Dalam kenyataan kurs valuta asing tidak stabil
karena kenaikan harga umum di suatu negara berbeda dengan kenaikan harga umum
negara lain (partner)
¨ Rumus Teori Purchasing Power Parity (PPP)
IHDx / IHDn
Pn-x
= ------------------
IHFx / IHFn
Keterangan
: Pn-x
= Paritas Daya Beli Tahun s/d x
IHD = Indeks Harga Konsumen Dalam Negeri
IHF = Indeks Harga Konsumen Luar Negeri
n =
tahun dasar
x =
tahun x
¨ Rasio paritas yang semakin tinggi berarti
kenaikan harga umum dalam negeri lebih tinggi dibandingkan luar negeri. dengan
kata lain terjadi penilaian lebih (overvalue) terhadap mata uang dalam negeri.
Maka untuk menyesuaikan kurs mata uang dilakukan kebijakan devaluasi. Yaitu
menurunkan nilai mata uang dalam negeri terhadap mata uang luar negeri (asing).
· ALASAN, TUJUAN DAN AKIBAT DEVALUASI
1. Alasan Devaluasi: karena telah terjadi
ketidak-seimbangan (defisit) neraca pembayaran.
Dalam
persetujuan perjanjian IMF. Artikel IV section 5 9a) dan (f) disebutkan bahwa
“negara-negara anggota menyetujui untuk tidak perlu menyampaikan usul pada IMF
mengenai perubahan paritas kurs mata uangnya, kecuali bila dianggap perlu
melakukan koreksi atas suatu disekuilibrium fundamental neraca pembayaran. IMF
sendiri akan menyetujui perubahan kurs itu apabila IMF menganggap perbaikan itu
perlu dijalankan”.
2. Tujuan Devaluasi :
(1) Untuk merangsang perluasan ekspor akibat
penerimaan yang bertambah dari para eksportir
(2) Untuk menurunkan impor karena bertambah mahal
akibat kenaikan kurs.
(3) Dengan meningkatnya ekspor dan menurunnya
impor maka neraca pembayaran seimbang (tidak defisit) dan diharapkan cadangan
devisa akan bertambah.
3. Akibat Devaluasi
Harga barang-barang
yang menggunakan bahan baku impor akan naik akibat naiknya kurs dan pada
akhirnya harga barang-barang lain juga akan naik.
5. ASPEK
SOLVABILITAS NERACA PEMBAYARAN LUAR NEGERI
Bagaimana peran
ekspor-impor terhadap perekonomian nasional bisa dilihat dari berbagai
indikator, seperti : (1) saldo transaksi berjalan, (2) rasio ekspor-impor
terhadap PDB dan (3) dinilai tukar perdagangan (terms of trade)
1.
Perkembangan Saldo Transaksi
Berjalan
· Transaksi
Berjalan (TB) adalah perhitungan antara saldo ekspor-impor barang dengan saldo
ekspor-impor jasa atau kalau digabung TB adalah perhitungan antara ekspor
barang dan jasa dengan impor barang dan jasa.
Perkembangan Ekspor, Impor dan
Saldo TB (1973-1990) (dalam juta
$)
Periode
|
Ekspor
Barang dan Jasa
|
Impor
Barang dan Jasa
|
Saldo
TB, Termasuk Off Transfer
|
1973
1974
1975
1976
1977
1978
1979
1980
1981
1982
1983
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
|
3,306
7,464
7,025
8,774
10,929
11,327
15,552
22,241
24,878
21,274
19,866
22,152
20,139
15,972
18,832
21,370
25,411
29,455
|
3,836
6,915
8,160
9,696
11,006
12,754
14,602
19,432
25,694
26,732
26,318
24,175
22,150
20,142
21,187
23,021
26,858
32,038
|
-476
598
-1,109
-907
-51
-1,413
980
3,011
-566
-5,324
-6,338
-1,856
-1,923
-3,911
-2,098
-1,397
-1,108
-2,369
|
Sumber
: IMF, International Financial
Statistic (dikutip dari : Tulus T. H. Tambunan, 1996).
· Hampir
setiap tahun TB mengalami saldo defisit ( - ) kecuali pada tahun-tahun 1974,
1979 dan 1980 yaitu pada masa oil boom I dan II.
2.
Rasio Ekspor Impor terhadap PDB
· Besar
kecilnya rasio ekspor impor terhadap PDB menunjukkan besar-kecilnya peranan
atau sumbangan perdagangan luar negeri terhadap PDB. Makin bsar rasio ekspor
impor terhadap PDB, makin besar sumbangan ekspor impor terhadap PDB, yang
berarti pula makin besar pengaruh perdagangan luar negeri terhadap perekonomian
nasional.
· Tahun
1980 Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar $69,800 miliar, nilai ekspor
saat itu $21,909 miliar dan nilai impor $10,909 maka kalau kita hitung rasio
ekspor – impor erhadap PDB pada tahun 1980 sebesar 47,0%. Rasio itu pada tahun
1996/1997 meningkat menjadi 55,7%, karena saat itu jumlah PDB sebesar $231,400
miliar, sedang total nilai ekspor + impor sebesar $128,913 miliar.
· Besarnya
% nilai ekspor dan impor terhadap PDB tersebut menunjukkan bahwa keterpaduan
ekonomi Indonesia masih lemah. Ekonomi Indonesia sangat tergantung pada ekonomi
luar negeri.
6. EFEK
NILAI TUKAR PERDAGANGAN (TERMS OF TRADE)
· Pengaruh
Perdagangan luar negeri dapat diketahui melalui indikator indeks nilai tukar
perdagangan (terms of trade) perubahan terms of trade (TOT) dari tahun ke tahun
akan mempengaruhi besarnya pendapatan domestik bruto (GDY = Gross Domestic
Yield). Untuk mengetahui berapa besar pengaruh TOT terhadap GDY, maka perlu
dilakukan prosedur sebagai berikut : (Suseno, 1995).
1) Menentukan indeks harga ekspor (Px)
dan indeks harga impor (Pm).
XB MB
Px =
--------- . 100% ; Pm =
--------- . 100%
XK MK
Keterangan :
XB = ekspor harga berlaku
XK = ekspor harga konstan
MB = impor harga berlaku
MK - impor harga konstan
2) Menentukan indeks nilai tukar atua terms of
trade (TOT)
Px
TOT = ------- . 100%
Pm
3) Menentukan nilai kapasitas impor (Cm),
yaitu kemampuan mengimpor barang-barang dari luar negeri berdasarkan nilai
ekspor.
XB XK
Cm =
------- . 100%, atau ------- . TOT
Pm 100
4) Menentukan efek nilai tukar perdagangan luar
negeri (ENT)
ENT = Cn –
XK
5) Menentukan nilai Pendapatan Domestik Bruto
(GDY)
GDY = PDB + ENT
· Contoh
Perhitungan :
Tabel Ekspor Impor menurut Harga Berlaku dan
Harga Konstan 1993 (miliar rupiah)
Uraian
|
1998
|
2002
|
Ekspor harga
berlaku (XB)
Ekspor harga
konstan (XK)
Impor harga berlaku
(MB)
Impor harga konstan
(MK)
PDB s/d harga
konstan 1993
|
506.244,8
134.707,2
413.058,1
132.400,7
376.374,7
|
559.941,9
116.907,1
459.631,1
97.985,1
426.740,5
|
Perhitungan ENT dan
GDY 1998, 2002 (miliar rupiah)
Uraian
|
1998
|
2002
|
Indeks harga
berlaku (Px)
Indeks harga
konstan (Pm)
Term of Trade (TOT)
Kapasitas Impor (Cm)
Efek Nilai Tukar
(ENT)
GDY s/d harga 1993
|
375,8%
312,0%
120,5%
162.258,0
27.550,8
403.925,5
|
487,5%
469,1%
103,9%
121.496,9
4.589,8
431.330,3
|
· Harga
ekspor dan impor konstan 2002 lebih kecil dibandingkan harga ekspor dan impor
konstan 1998, menyebab TOT menurun dari 120,5 (1998) menjadi 103,9 (2002),
sehingga ENT tahun 2002 hanya Rp 4.589,8 miliar dibandingkan ENT tahun 1998
sebesar Rp 27.550,8 miliar.
7. ANALISIS
KEBIJAKAN NERACA PEMBAYARAN LN
· Kebijakan
ekonomi internasional dalam arti luas adalah tindakan/ kebijakan ekonomi
pemerintah yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi komposisi,
arah serta bentuk dari pada perdagangan dan pembayaran internasional.
Dalam arti sempit
kebijakan ekonomi internasional adalah tindakan/ kebijakan ekonomi pemerintah
yang secara langsung mempengaruhi perdagangan dan pembayaran internasional.
· Instrumen
kebijakan ekonomi internasional meliputi : (1) kebijakan perdagangan internasional;
(2) kebijakan pembayaran internasional; (2) kebijakan bantuan luar negeri.
1)
KEBIJAKAN PERDAGANGAN
INTERNASIONAL
a.
Cakupan kebijakan meliputi
tindakan pemerintah terhadap transaksi-transaksi dalam
b. TINDAKAN/ KEBIJAKAN PEMERINTAH :
(1) Mengundangkan UU No.5/ 1999 tentang Larangan
Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat: untuk meningkatkan efisiensi
dan daya saing usaha;
(2) Menurunkan tarif pajak ekspor (beberapa produk
tertentu): untuk meningkatkan daya
saing.
(3) Mendirikan PT. Bank Ekspor Indonesia (BEI):
menyediakan pembiayaan, penjaminan, jasa konsultasi dan usaha lain untuk
meningkatkan ekspor.
2) KEBIJAKAN PEMBAYARAN INTERNASIONAL
a.
Kebijakan ini meliputi tindakan/
kebijakan pemerintah rekening modal (Modal di Luar Sektor Moneter): menyangkut
lalu lintas modal masuk dan keluar.
b. Tindakan/ kebijakan pemerintah :
1. Penghapusan pembatasan penanaman modal asing
(PMA): di bidang perkebunan kelapa sawit, perdagangan eceran dan grosir.
2. Pengesahan kerangka kerja sama investasi antar
ASEAN
3. Mengundangkan UU No. 24/ 1999 tentang lalu
lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar
4. Peraturan BI, PBI No.1/9/PBI/1999: ketentuan
mengenai kewajiban pelaporan lalu lintas (kegiatan) devisa melalui Bank dan
LKBB.
3) KEBIJAKAN BANTUAN LUAR NEGERI
a.
Kebijakan bantuan luar negeri
adalah tindakan/ kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan bantuan (grants),
pinjaman (loans):
b. Tindakan/ kebijakan pemerintah :
Pemerintah bersama
bank Indonesia meneruskan upaya penyelesaian masalah utang luar negeri dan
dalam negeri salah satu penyelesaian utang luar negeri adalah :
(1) Pemerintah melanjutkan kesepakatan Frankfrut 4
Juni 1998 mengenai restrukturisasi utang jangka pendek antar bank melalui
pertemuan di London 29 Maret 1999.
(2) Hasil kesepakatan pertemuan London: menukarkan
utang luar negeri antar bank (exchange offer) yang jatuh tempo antara 1-4-1999
s/d 31-12-2001 dengan utang baru yang jatuh tempo antara tahun 2002 hingga
tahun 2005.
(3) Fasilitas yang diberikan kepada para debitor
dan kreditor untuk menyelesaikan masalahnya melalui PRAKASA JAKARTA dan INDRA
(Indonesia Debt Restruturing Gency)
DAFTAR BACAAN
1. Tambunan, Tulus, T.H., Dr., Perekonomian
Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2001.
2. Nopirin, Dr., Ekonomi Internasional, ……
1990
3. Kindleberer, Ekonomi Internasional,
Terjemahan oleh Rudy P. Sitompul, Penerbit Erlangga, jakarta, 1983.
4. Hutaba rat, Roselyne, Dra., Transaksi
Ekspor-Impor, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1992.
5. Boediono, Dr., Ekonomi Internasional,
Diterbitkan oleh BPFE, Yogyakarta, 1994.
6. Opposunggu, H.M.T., Kebijaksanaan Devaluasi
di Indonesia, Penerbit Erlangga, jakarta, 1985.
7. Triyono Widodo, Suseno Hg. Indikator
Ekonomi, Dasar Perhitungan Perekonomian Indonesia, Penerbit Kanisius, 1995.
8. Bank Indonesia, Laporan Bank Indonesia,
Tahun 1998, 1999, 2000, 2001, 2002.
MONETER DAN BANK
Bank
Indonesia :
-
Menjaga stabilitas harga/ inflasi
-
Menjaga stabilitas nilai tukar
rupiah
1. Kredit è M2 è inflasi meningkat kebijakan DPT dengan SBI
dan CAR & LDR
a.
Mekanisme SBI
Bila
M2 (kelebih likujiditas) è Bunga SBI è likuiditas Bank :
-
50% beli SBI
-
50% beli kredit
b. CAR :
-
Tujuan
-
Manfaat
LDR
:
-
Tujuan
-
Manfaat
2. Susunan/ Rumus Mo dan M2
M0
è sasaran operasional
M2
è sasaran antara
Inflasi
è sasaran akhir
Lampiran : Neraca Pembayaran
Indonesia
1997 – 2001 (Standar Bank
Indonesia)
1995 – 1998 (Standar IFM)
NERACA
PEMBAYARAN INDONESIA
|
|||
Rincian
|
1997
|
1998
|
1999
|
MILIAR
$
|
|||
A. Transaksi Berjalan
1. Barang
a.
Export f.o.b
1) Non Migas
2) Migas
-
Minyak
-
LNG
-
LPG
b. Impor f.o.b
1) Non Migas
2) Migas
-
Minyak
-
LNG
2. Jasa
a.
Non Migas
b. Migas
1) Minyak
2) LNG
B. Modal di luar Sektor Moneter
1) Lalu lintas modal pemerintah (bersih)
a.
Penerimaan pinjaman
b. Pelunasan pinjaman
2) Lalu lintas modal swasta (nt)
a.
Penanaman modal langsung
b. Lainnya
C. Jumlah (A + B)
D. Selisih perhitungan C dan E
E. Lalu – lintas Moneter
Catatan :
1. Aktiva Luar Negeri (GFA)
Setara impor
nonmigas (bulan)
2. Cadangan Devisa Bersih (NIR)
3. Transaksi Berjalan (%)
|
-5,6
10,1
56,3
44,6
11,7
6,8
4,4
0,5
-46,2
-41,1
-4,8
-4,5
-0,3
-15,1
-10,5
-4,6
-2,1
-2,5
2,6
2,9
7,9
-4,7
-0,3
4,7
-5,0
-2,4
-1,7
4,8
21,4
4,5
17,6
-2,3
|
4,1
18,3
50,3
42,9
7,4
4,1
3,1
0,2
-32,0
-29,1
-2,9
-2,6
-0,3
-14,2
-11,4
-2,8
-1,4
-1,4
-3,9
10,0
13,7
-3,7
-13,9
-0,4
-13,5
0,2
2,1
-2,3
23,8
8,9
14,1
4,3
|
5,2
20,1
51,4
41,4
10,0
5,7
4,0
0,3
-31,3
-27,4
-3,9
-3,6
-0,3
-14,9
-11,9
-3,0
-1,4
-1,6
-3,2
6,5
10,6
-4,1
-9,7
-2,3
-7,4
2,0
1,4
-3,4
27,1
10,9
16,4
4,0
|
NERACA
PEMBAYARAN INDONESIA
|
|||
Rincian
|
1999
|
2000
|
2001
|
MILIAR
$
|
|||
A. Transaksi Berjalan
1. Barang
a.
Export f.o.b
1) Non Migas
2) Migas
-
Minyak
-
LNG
-
LPG
b. Impor f.o.b
1) Non Migas
2) Migas
-
Minyak
-
LNG
2. Jasa
a.
Non Migas
b. Migas
1) Minyak
2) LNG
B. Modal di luar Sektor Moneter
1) Lalu lintas modal pemerintah (bersih)
a.
Penerimaan pinjaman
b. Pelunasan pinjaman 1)
2) Lalu lintas modal swasta (nt)
c.
Penanaman modal langsung
d. Lainnya
C. Jumlah (A + B)
D. Selisih perhitungan C dan E
E. Lalu – lintas Moneter 2)
Catatan :
1. Aktiva Luar Negeri (GFA)3)
Setara impor
nonmigas (bulan)
2. Cadangan Devisa Bersih (NIR)
3. Transaksi Berjalan (%)
|
5,8
20,6
51,2
41,0
10,3
5,7
4,2
0,4
-30,6
-26,6
-4,0
-3,7
-0,3
-14,9
-11,7
-3,2
-1,5
-1,7
-4,6
5,4
7,9
-2,6
-9,9
-2,7
-7,2
1,2
2,1
-3,3
27,1
6,7
4,1
|
8,0
25,0
65,4
50,3
15,1
8,0
6,8
0,4
-40,4
-34,4
-6,0
-5,8
-0,2
-17,1
-12,5
-4,6
-2,2
-2,4
-6,8
3,2
5,0
-1,8
-10,0
-4,6
-5,4
1,2
3,8
-5,0
29,4
6,0
5,3
|
5,0
21,6
58,7
45,8
12,9
7,2
5,4
0,4
-37,0
-31,4
-5,6
-5,3
-0,3
-16,7
-12,4
-4,3
-2,2
-2,1
-8,9
-0,3
3,3
-3,6
-8,6
-5,9
-2,7
-3,9
2,6
1,4
28,0
6,1
3,4
|
Neraca Pembayaran Indonesia 1) (juta $)
|
|||||
Rincian
|
1995
|
1996
|
1997
|
1998
|
19992)
|
A.
Neraca barang dan Jasa
1.
Barang dagangan ekspor f.o.b
Barang dagangan impor f.o.b
2.
Ongkos penggangkutan dan asuransi
Berhubungan dengan impor
3.
Ongkos pengangkutan lainnya
4.
Perjalanan luar negeri
5.
Jasa modal
5.1. Jasa modal dari sektor minyak bumi dan LNG
5.2. Jasa modal dan penanaman modal langsung dan lainnya
6.
Pemerintah tidak termasuk bagian lain
7.
Jasa lain-lain
Neraca barang (1)
Neraca Jasa ( 2 s.d. 7)
B.
Hibah
8.
Swasta
9.
Pemerintah
C.
Transaksi Berjalan (A + B)
D.
Lalu lintas Modal
D.1. Diluar sekotr moneter
10. Penanaman modal langsung dan lalu lintas modal
jangka panjang lainnya
Penanaman modal langsung
Obligsi
a.
Pemerintah
b.
Swasta
Lalu lintas modaljangka panjang lainnya
a.
Pemerintah
b.
Swasta
11. Lalu lintas modal jangka pendek
11.1. Pemerintah
11.2. Swasta
D.2. Sektor moneter
12. emas moneter
13. Special Drawing Rights
14. Hubungan dengan IMF
15. Valuta asing
16. Lain-lain
E.
Selisih perhitungan (antara C dan D)3)
|
-6.760
42.454
-40.921
-4.504
-695
3.057
-7.907
-2.033
-5.874
-183
-2.858
6.533
-13.293
330
--
330
-6.430
8.768
10.284
10.268
4.346
--
--
--
5.938
31
5.907
--
--
--
-1.516
-12
-5
-7
-1.492
0
-2.338
|
-7.801
50.188
-44.240
-4.867
-1.018
3.787
-8.176
-2.168
-6.008
-225
-3.250
5.948
-13.749
125
--
125
-7.676
6.387
10.638
6.613
6.194
--
--
--
419
-672
1.091
4.225
0
4.225
-4.451
48
3
8
-4.511
1
1.289
|
-5.001
56.297
-46.223
-5.084
-934
4.236
-8.946
-2.614
-6.332
-264
-4.103
10.074
-15.075
309
--
309
-4.692
6.343
2.233
4.478
4.677
--
--
--
-199
2.571
-2.70
-2.245
0
-2.245
4.110
219
-524
273
4.142
0
-1.651
|
3.589
50.371
-31.942
-3.337
-852
2.154
-9.955
-1.756
-8.189
-78
-2.773
18.429
-14.841
508
--
508
4.097
-6.219
-3.875
4.354
-356
--
--
--
4.710
9.920
-5.267
-8.229
0
-8.229
-2.344
6
132
0
-2.482
0
2.123
|
4.363
51.435
-31.357
-2.811
-926
2.189
-11.030
-1.820
-9.210
-72
-3.077
20..078
-15.726
804
--
804
5.157
-6.504
-3.212
4.735
-2.323
--
--
--
7.058
6.542
516
-7.947
0
-7.947
-1.292
-9
156
0
-3.439
0
1.548
|
1)
Penyajian menurut standar iMF
2)
Proyeksi per 30 November 1999
3)
Positif berarti detaild an negatif berarti
surplus
|
|||||
Peran Kurs Valuta Asing Pada Perekonomian Indonesia
Setiap negara mempunyai mata uang yang berbeda-beda. Mata uang yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran di negara lain dinamakan valuta asing. Misalnya Pak Andre ingin mengimpor alat-alat elektronik dari Singapura. Untuk membayar barang-barang yang diimpornya, Pak Andre harus menukarkan mata uang rupiahnya menjadi mata uang Singapura. Mata uang Singapura ini disebut valuta asing.Apabila sesuatu barang ditukar dengan barang lain, tentu di dalamnya terdapat perbandingan nilai tukar antara keduanya. Nilai tukar itu sebenarnya merupakan harga di dalam pertukaran tersebut. Demikian pula pertukaran antara dua mata uang yang berbeda, terdapat perbandingan nilai/harga antara kedua mata uang tersebut. Perbandingan nilai inilah yang sering disebut kurs (exchange rate). Misalnya US$1 sama dengan Rp9.200,00, berarti untuk mendapatkan satu dollar Amerika Serikat dibutuhkan Rp. 9.200,00. Kurs valuta asing seringkali mengalami perubahan, kadang menguat, namun terkadang juga melemah. Perubahan ini disebabkan karena permintaan dan penawaran mata uang asing. Sebagai contoh, pada tanggal 31 Maret 2008 nilai rupiah terhadap dollar Amerika Serikat sebesar Rp9.200,00 (US$1 = Rp9.200,00). Pada tanggal 1 April 2008, besarnya nilai rupiah terhadap dollar Amerika Serikat Rp9.203,00 (US$1 = Rp9.203,00). Berubahnya kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat menunjukkan bahwa harga dollar Amerika Serikat semakin tinggi sehingga dapat disebut dollar Amerika Serikat menguat. Bagaimana dengan kurs rupiah terhadap dollar? Kuatnya nilai dollar terhadap rupiah menyebabkan nilai rupiah menurun.
Sebab-sebab perubahan permintaan dan penawaran valuta asing diantaranya :
- Perubahan selera masyarakat terhadap komoditi luar negeri
- Perubahan iklim investasi dan tingkat bunga
- Perubahan tingkat inflasi
- Iklim investasi
Mata uang asing dapat diperjualbelikan. Tempat untuk jual beli valuta asing di bank devisa atau money changer. Penghitungan dalam jual beli valuta asing didasarkan pada kurs jual dan kurs beli. Kurs jual adalah kurs yang diberlakukan oleh bank apabila bank menjual mata uang asing. Adapun kurs beli adalah kurs yang diberlakukan oleh bank apabila membeli mata uang asing.
Apabila kita perhatikan di tempat-tempat penukaran valuta asing, harga kurs jual akan lebih tinggi dibandingkan kurs belinya. Mengapa demikian? Karena mereka ingin mendapatkan keuntungan. Keuntungan jual beli valuta asing dapat diperoleh dari selisih kurs jual dengan kurs beli.
FUNGSI, KEUNTUNGAN DAN KELEMAHAN PASAR VALUTA ASING
Pasar Valuta Asing (Valas) adalah pasar yang
memperdagangkan valuta asing atau uang asing dan sebagai lembaga pasar di mana
orang dapat memperoleh fasilitas untuk melakukan pembayaran atau menerima
pembayaran dari penduduk negara lain. Secara umum, permintaan atau penawaran
valuta asing dilakukan di bursa valuta asing yang diselenggarakan oleh bank
atau lembaga keuangan lainnya.
Pertemuan antara permintaan dan penawaran valuta asing akan membentuk kurs atau nilai tukar (exchange rate). Kurs valuta asing terdiri atas dua macam:
1. kurs jual, adalah kurs yang berlaku apabila bank atau lembaga
keuangan lainnya menjual/mengeluarkan uang asing.
2. kurs beli, adalah kurs yang berlaku apabila bank atau lembaga
keuangan lainnya membeli/menerima uang asing.
Pasar valuta asing mengalami pertumbuhan yang pesat pada awal
dekade 70-an. Pasar valuta asing dapat tumbuh dengan pesat antara lain
disebabkan oleh hal-hal berikut.
1. Pergerakan nilai valuta asing yang mengalami pergerakan cukup
signifikan sehingga menarik beberapa kalangan tertentu untuk berkecimpung di
dalam pasar valuta asing.
2. Bisnis yang semakin mengglobal, di mana semakin sengitnya
persaingan bisnis membuat perusahaan harus mencari sumber daya baru yang lebih
murah dan tersedia hamper di seluruh dunia sehingga menimbulkan permintaan akan
mata uang suatu negara tertentu.
3. Perkembangan telekomunikasi yang begitu cepat dan adanya
sarana yang memudahkan para pelaku pasar untuk berkomunikasi sehingga transaksi
lebih mudah dilakukan.
4. Keuntungan yang di peroleh di pasar valuta yang cenderung
besar meningkatkan keinginan berbagai pihak untuk berusaha memperoleh gain dari pergerakan valuta
asing. Pasar valuta asing mencakup wilayah yang tanpa batas yaitu meliputi
hampir seluruh dunia.
1.
Fungsi Pasar Valuta Asing
Fungsi pasar valuta asing di antaranya adalah:
a. mempermudah pertukaran valuta asing (valas) serta pemindahan
dana dari satu negara ke negara lain sehingga memungkinkan terjadinya kliring
internasional;
b. sebagai penyedia kredit, artinya pasar valuta asing memberikan
kemudahan untuk dilaksanakannya perjanjian atau kontrak jual beli dengan
kredit;
c. membatasi risiko, artinya pada pasar valuta asing
memungkinkan dilakukannya hedging (membatasi risiko terhadap
kemungkinan perubahan harga);
d. spekulasi, artinya pada pasar valuta asing orang dapat
melakukan spekulasi menerima bahkan mencari risiko dengan harapan mendapatkan
keuntungan.
2.
Produk Pasar Valuta Asing
Mata uang dunia yang biasa diperdagangkan di pasar valuta
asing terdiri atas tujuh macam, yaitu:
a. Dollar Amerika (US$)
b. Poundsterling Inggris (GBP)
c. Euro Dolar (EUR)
d. Swiss Franc (CHF)
e. Japanese Yen (JPY)
f. Australian Dolar (AUD)
g. Canadian Dolar (CAD)
Pasar valuta asing bisa terjadi di bank atau tempat penukaran valuta
asing (money changer), sedangkan nilai kursnya dapat diberikan
contoh dari media cetak berikut ini.
3.
Keuntungan dan Kelemahan Adanya Pasar Valuta Asing
Keuntungan adanya pasar valuta asing di antaranya:
a. hubungan perdagangan antarnegara semakin berkembang,
b. mempermudah pertukaran uang bagi seseorang yang memerlukan
transaksi di luar negeri,
c. mendorong berkembangnya ekspor dan impor.
Adapun kelemahan adanya pasar valuta asing adalah:
a. perubahan kurs akan mendorong spekulasi,
b. menimbulkan inflasi (kenaikan harga barang secara umum),
c. jika negara sedang resesi, akan mendorong kebijakan
devaluasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar